Berstatus Sekolah Inklusi, SMPN 14 Banjarmasin Didik Siswa Berkebutuhan Khusus Sejak 2013

 

Sekolah di SMPN 14 Banjarmasin sudah menerima anak berkebutuhan khusus sekitar tahun 2013 lalu. Anak berkebutuhan khusus yang diterima mulai autis, tuna rungu, slow leaner, tuna daksa dan tuna laras. Zulfiah Dewi Artati, Ketua Pengelola Kegiatan Inklusi di SMPN 14 Banjarmasin mengatakan di tempatnya ada 13 Guru Pembimbing Khusus (GPK) yang membimbing 33 anak. "Perbandingannya satu guru GPK membimbing dua atau tiga siswa ABK per kelas," tandas Guru PKn ini.

 

Ditambahkan Zulfiah, di SMPN 14 sudah menerima ABK sekitar tahun 2013 lalu. Anak yang diterima mulai autis, tuna rungu, slow leaner, tuna daksa dan tuna laras. "Alhamdulillah, anak-anak ABK yang lulus dari sini ada yang menjadi guru, agro bisnis, pramusaji dan lain-lain," ucap Wakasek Kurikulum SMPN 14 Banjarmasin.

 

Menurutnya, keberhasilan mendidik anak-anak berkebutuhan khusus tak lepas selalu menanamkan kepercayaaan diri, kemandirian dan keyakinan yang kuat pada Yang Maha Kuasa. Zulfiah berharap Pemko dan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, khususnya lebih memberikan kesempatan bagi anak-anak inklusif untuk berkarya dan mengembangkan potensi dirinya melalui ajang lomba atau pun pelatihan terstruktur dengan tenaga ahli. "Apalagi sekarang sekolah kami dipimpin Pa Aminsyah yang jugw merupakan tokoh pendisikan inklusi sejak beliau mengajar di SMAN 8 dulu dan beliau sangat me support luar biasa," tandasnya.

 

Selain itu, lanjut dia, dengan siswa reguler, anak berkebutuhan khusus tidak masalah dan bisa bersosialisasi dengan baik. "Karena kami, para guru dalam setiap kegiatan pembelajaran selalu berupaya menanamkan rasa solidaritas. Begitu juga setiap pertemuan dengan orangtya seluruh siswa selalu kami beri masukan tentang apa dan bagaimana ABK, meakipun pada awalnya menuai oertanyaan dari orangtua reguler. Seiring waktu mereja bisa memahami," ucapnya.

 

Mengenai mengajar anak-ansk ABK, menurut Zulfiah tidak ada dukanya. Kendala hanya karena secara profesionalisme mereka bukan guru pendidikan khusus. "Jadi, kami harus belajar sambil, banyak baca buku, belajar dari para narasumer inklusi, mahasiswa PLB ULM yang PPL, dari orangtua siswa ABK dan dari semuanya. Merupakan sebuah kepuasan bathin, ketika kami mampu melihat perubahan yang terjadi pada siswa inklusi. Sekecil apa pun perubahan itu, sudah luar biasa, karena bukan kemampuan akademik yang diharapkan namun lebih pada kemampuan bina diri dan keterampilannya," tandasnya.

 

Sumber: https://banjarmasin.tribunnews.com/2020/02/25/berstatus-sekolah-inklusi-smpn-14-banjarmasin-didik-siswa-berkebutuhan-khusus-sejak-2013

Komentar