Ketua Pengelola Kegiatan Inklusi SMPN 14
Banjarmasin, Zulfiah Dewi Artati, mengatakan di sekolahnya ada 13 Guru
Pembimbing Khusus (GPK) untuk membimbing 30 ABK. "Perbandingannya satu
guru GPK membimbing dua atau tiga siswa ABK per kelas," tandas kuru PKn
ini. Ditambahkan Zulfiah, sekolahnya sudah menerima ABK sekitar 2013.
ABK yang diterima antara lain autis,
tunarungu, slow leaner, tunadaksa dan tuna laras. "Alhamdulillah, ABK yang
lulus dari sini ada yang pengusaha pertanian, pramusaji dan lainnya,” kata
Wakasek Kurikulum SMPN 14 Banjarmasin ini.
Menurutnya, keberhasilan mendidik anak-anak
berkebutuhan khusus tak lepas selalu menanamkan kepercayaaan diri, kemandirian
dan keyakinan yang kuat pada Yang Maha Kuasa. Zulfiah berharap Pemko dan Dinas
Pendidikan Kota Banjarmasin memberikan kesempatan bagi anak inklusif untuk
berkarya dan mengembangkan potensi melalui lomba atau pelatihan terstruktur
dengan tenaga ahli. "Apalagi sekarang sekolah kami dipimpin Pak Aminsyah
yang juga tokoh pendidikan inklusi sejak beliau mengajar di SMAN 8. Beliau sangat
mendukung," tandasnya. Zulfiah juga menerangkan siswa reguler dan ABK
dapat bersosialisasi dengan baik.
"Meski pun pada awalnya penerimaan anak
inklusi menuai pertanyaan dari orangtua siswa reguler. Seiring waktu mereka
bisa memahami," ucapnya. Mengenai teknik mengajar ABK, menurut Zulfiah,
tidak ada dukanya. Kendala hanya karena secara mereka bukan guru pendidikan
khusus. "Jadi, kami harus belajar, banyak baca buku, belajar dari para
narasumer inklusi, mahasiswa Pendidikan Luar Biasa Universitas Lambung
Mangkurat yang magang, orangtua siswa ABK dan berbagai pihak.
Merupakan sebuah kepuasan bathin, ketika kami
mampu melihat perubahan yang terjadi pada siswa inklusi. Sekecil apa pun
perubahan itu, sudah luar biasa, karena bukan kemampuan akademik yang
diharapkan namun lebih pada kemampuan bina diri dan keterampilannya,"
tandasnya. Kepala SMPN 14 Banjarmasin, Aminsyah mengatakan siswa inklusi tetap
digabung dengan anak reguler dalam proses belajar. "Namun, mereka perlu
guru pendamping khusus untuk mendukung proses pembiasaan belajar dengan anak
lainnya," tandasnya.
Sumber: https://banjarmasin.tribunnews.com/2020/01/02/lulusan-smpn-14-sudah-banyak-yang-mandiri-begini-cara-sekolah-mendidik-anak-berkebutuhan-khusus

Komentar
Posting Komentar